BANGSA PLURALIS DAN SIKAP PRIMODIALIS

Oleh: Efan jhole (Kabid Penalaran dan Keilmuan Periode 2019/2020)

Sebagai makhluk ber Tuhan patut kita panjatkan puji syukur atas segala rahmat yang telah diberikan oleh-NYA.

Yang pertama penulis mencoba menjawab pertanyaan “Apa itu Bangsa, apa itu pluralisme dan apa itu primordialisme.

-Bangsa. Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap Nasional memiliki identitas bersama dan mempunyai kesamaan bahasa, ideologi, budaya, sejarah dan tujuan yang sama. Mereka umumnya dianggap memiliki asal usul keturunan yang sama. Jika dilihat dari pengertian Bangsa, Indonesia rupanya tidak termasuk dalam ideologi bangsa yang mempunyai kesamaan budaya. Hal ini dibuktikan di negara kita ini, bahwa Negara kita adalah bangsa yang majemuk dalam artian terdiri dari latar belakang kebudayaan yang berbeda dan kemudian disatukan lewat slogan “Bineka Tunggal Ika” ( berbeda-beda tapi tetap satu ).

– Pluralisme. Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk.

– Primordialisme. Primordialisme adalah salah satu sikap yang menganggap kelompoknya lebih tinggi dibandingkan kelompok yang lain.

Yang ke dua, penulis mecoba menjelaskan seperti apa kaitan atau hubungan dari “Bangsa yang pluralisme dan sikap primordialisme”.

Bangsa yang pluralisme terdiri dari latar belakang kebudayaan, dan bahasa masyarakat yang berbeda. Negara ini sangat luar biasa, sangat majemuk tapi memiliki rasa Nasionalisme yang sama. Oleh karena latar belakaang budaya dan bahasa yang berbeda terlihat banyak sekali konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Timbulnya konflik atau masalah yang terjadi dikarenakan pudarnya rasa Nasionalis, masyarakat cendrung bersikap primordialisme yang berpotensi menimbulkan bedanya ideologi atau bedanya pemahaman antara masyarakat satu dengan yang lain. Sinyal kuat sikap primordialisme bukan gejala biasa, maraknya pertikaian bahkan pembunuhan hanya karena beda ideologi. Kelompok tertentu mencoba merendahkan kebudayaan lain, kelompok masyarakat lain dan menganggap bahwa kelompoknya itu lebih pantas atau posisinya lebih tinggi.

Eksistensi bangsa yang katanya mencintai pluralisme diancam oleh sekelompok orang yang memcoba mengkhilafakan sikap Nasionalosme itu sendiri. Kita ketahui bersama bahwa kekayaan budaya kita menunjukan identitas bangsa kita. Dari berbagai kebudayaan dan agama yang berbeda, kemudian mencoba membentuk masyarakat yang primordial. Pemahaman- pemahaman seperti ini berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan. Mereka seakan meretas sekat rasa cinta pluralisme, dari generasi ke generasi ketika dibiarkan masalah ini berlarut dalam diri setiap kelompok maupun individu maka dekadensi keberadaan sikap mencintai pluralitas akan sangat terlihat jelas di kaca mata sosial kita.

Deklarasi primordialisme pada rasa cinta pluralisme bangsa semakin hari semakin memuncak. Karena persaingan politik yang kian menimbulkan penyebaran berita hoaks (apalagi yang bersifat manjelekan lawan politik) berpengaruh pada kebencian pada orang lain. Ini salah satu masalah primordial.

Sikap-sikap seperti ini menunjukan adanya sifat etnosentrisme yang sedang diimplementasikan dalam setiap ras atau golongan. Salah satu contoh konkritnya dalam kehidupan kampus. Sering kita lihat bahwa ada banyak perhimpunan yang membedakan mereka dengan ras atau golongan lainya. Di lingkungan kampus juga sering kita jumpai berbagai kelompok yang setiap detik menitnya hanya berinteraksi dengan orang yang berasal dari daerah yang sama. Kebiasaan seperti ini akan berpengaruh pada jiwa sosialnya.

Dalam bidang birokrasi ataupun swasta. Banyak terjadi pelacuran wewenang dalam artian hanya menerima para pekerja atau calon birokrasi di suatu lembaga tertentu hanya karena satu ras, satu golongan dan satu kebudayaan.

Dalam bidang politik. Sikap primordial menunjukan sikap politik identitas. Hasil akhir dari politik identitas adalah lebih mendominsikan kelompok sendiri, memperkenalkan kepada publik bahwa latar belakang dirinya lebih tinggi dibandingkan orang lain. Dalam usaha memanimalisir masalah seperti ini butuh tenaga yang kuat. Dimana harus bisa menerima kenyataan, bahwa rasa mencintai majemuk harus ditanamkan di setiap diri masyarakat atau individu. Oleh karena itu usaha penanaman dedikasi yang mulia sangat dirindukan oleh ideologi pancasila dalam slogan “bineka tunggal ika” yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu.

Terakhir penulis hanya mau menyampaikan bahwa, sekarang reputasi bangsa yang mencintai pluralitas telah dilacuri oleh segelintir orang yang mencoba menkhilafakan asas keninekaan. Mari kita bersama bergandengan tangan mengasimilasikan dengan cara berusa mengacomodasi (menyelesaikan berbagai macam sikap primordialisme). Kita masa depan bangsa harus bisa meretas sekat primordialisme karena sejatinya rasa cintah pluralis adalah identitas bangsa ini. Akhir kata penulis hanya mau mengucapkan bahwa sesungguhnya masyarakat yang dinamis adalah mereka yang berusaha meleraikan sikap primordialisme dari identitasnya menjadi sesuatu yang abstrak. Jadikan kita masyarakat yang dinamis.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai