Corona dan Dilema Pilihan Hidup

Oleh : Ama Edo

Berbagai kebijakan dan upaya telah dirumuskan pemerintah pusat maupun daerah dalam memerangi pagebluk corona. Namun, berbagai upaya tersebut, belum cukup kuat mencegah penyebarannya ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Terbukti jumlah kasus dan korban terus meningkat dan bertambah dari waku ke waktu. Dari data CNN Indonesia, jumlah pasien yang positif teninfeksi Virus Corona (7/4/2020), menjadi 2.738 orang, diantaranya 221 orang meninggal dan 204 dinyatakan positif.

Seiring merebaknya penyebaran virus corona tersebut, tentu menimbulkan dilema bagi para pemangku kebijakan. Entah dibenak decission makers, kebijakan apa lagi yang harus digunakan untuk mencegah penyebaran pandemi corona dan pilihan kebijakan seperti apa yang harus dipilih, untuk meretas permasalahan sosial yang diakibatkan oleh corona. Dilema yang sama juga dirasakan oleh berbagai golongan masyarakat Indonesia.

Golongan yang pertama, tim medis. Mereka dihadapkan antara memilih, meninggalkan pekerjan yang beresiko tinggi ini, kemudian melindungi dan menjaga sanak keluarganya dari corona (orang tua, isteri/suami dan juga anak yang tentu sangat membutuhkan pelukan dan kasih sayang di tengah keresahan akan corona), ataukah memlih berada di garda terdepan medan pertempuran memerangi pandemi corona.

Keadaan dilema juga diperparah dengan diskriminasi dan pengucilan dari lingkungan, dengan alasan tim medis rentan terhadap penyebaran corona karena berkontak lansung dengan pasien. Namun pernahkah terlintas di benak dan pikiran kita untuk sedikit saja, memikirkan keadaan mereka di medan pertempuran akan corona, ditambah tekanan batin kepada sanak keluarga yang ditinggalkan (terlebih anak yang harusnya membutuhkan asupan kasih sayang dari ayah atau ibunya ditengah keresahan pandemi ini).

Namun, bagi mereka melawan dan memerangi corona demi menyelamatkan hajat hidup banyak orang adalah pilihan akan tanggung jawab yang diembankan dan siap menerima konsekuensinya, antara hidup dan mati.

Golongan yang kedua, para perantau yang ada di luar negeri dan dalam negeri. Masyarakat yang digolongkan dalam golongan ini adalah mahasiswa dan para pencari nafkah di tanah orang, entah itu dalam negeri atau luar negeri.

Mereka sering mendapat label stigma yang kemudian membuat mereka dihadapkan pada dilema dan gangguan psikologi. Antara pulang kampung ataukah bertahan hidup di daerah de facto. Sebab wilayah di daerahnya sudah di karantina parsial atau isolasi terbatas. Sedangkan, di antara para pencari nafkah sudah dilakukan pemutusan hubungan kerja oleh majikan (biaya pasongan hanya untuk beberapa bulan). Seperti Papua dan Kota Tegal.

Begitupun dengan mahasiswa yang ada di perantauan, mereka harus memilih bertahan hidup dengan biaya finansial dan logistik yang ada sebab akses jalur transportasi sudah ditutup. Seperti di Kabupaten Flores Timur.

Yang ketiga, masyarakat berpendapatan rendah ke bawah (ojek, pedagang asongan, sopir angkot, sopir bajai, dll). Bagi mereka pilihan hidupnya, hanya berkisar ikut imbauan pemerintah ataukah tetap bekerja untuk membiayai kebutuhan sehari-hari (makan, minum) dan siap mengambil konsekuensi dari bahaya corona. Bagi mereka melawan pemerintah dan masuk kerja adalah pilihan untuk tetap bertahan hidup di tengah pandemi corona.

Begitupun juga kondisi yang dihadapi pemerintah daerah di sejumlah wilayah. Contohnya kabupaten Flores Timur. Berbagai tuntutan datang dari lingkungan untuk menutup transportasi laut. Namun, karena menutup jalur transportasi adalah hak penuh kekuasaan pusat, maka imbauan pemerintah Flotim beberapa minggu lalu untuk menutup jalur laut, akhirnya dicabut sebelum akhirnya diberlakukan kembali dengan alasan dugaan adanya 2 anak buah kapal KM. Lambelu dan 1 penjaga kantin terinfeksi positif corona ketika hendak berlabuh ke pelabuhan laut Larantuka.

Dari kondisi dan keadaan akan dilema pilihan hidup tersebut, diandaikan seperti buah simalakama, (kalau dimakan ibu mati, kalau tidak dimakan ayah meninggal). Maka, penulis mengharapkan kekuasaan pusat, lebih memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan sendiri dalam mengatasi penyebaran corona di daerahnya.

Pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi memberikan bantuan finasial kepada masyarakat di perantauan yang dipecat dan masyarakat yang berpendapatan rendah, serta membantu mahasiswa dari luar daerah, seperti bantuan logistik dan juga uluran tangan kita bersolidaritas lewat pihak-pihak terkait, untuk menyumbangkan peralatan medis, seperti masker, hand sanitizer, dll.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai