MENGAPA YESUS HARUS MATI? (REFLEKSI IMAN PADA PERISTIWA KEMATIAN YESUS)

Hari ini kita merayakan peristiwa Jumad Agung, mengenang Wafat Isah Almasi yang mati dikayu Salib demi menebus dosa umat manusia. Yesus dalam kehidupannya seringkali dikucilkan, seringkali dibenci lantaran Ia telah membuat banyak Mujizat dan Perumpamaan yang membuat pengikutnya bertambah banyak.

Yesus sudah tahu bahwa Ia akan dibenci dan bahkan akan mati seperti yang dikehendaki Allah sebagai penggenapan Firman Tuhan sebagaimana dituliskan dalam Alkitab. Dengan Perumpamaan dan  banyak membuat mejizat di mana-mana,  Ia(Yesus) di anggap membahayakan oleh Imam-Imam besar dan orang-orang Farisi.

  Lalu kemudian Yesus dituduh melakukan Makar dan dilaporkan ke Makamah Agung, pada waktu itu merumuskan ” Apabila Dia kita biarkan, maka semua orang percaya kepadaNya, dan orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci kita serta merampok bangsa kita” (Yoh  11:48).
Lalu Imam besar Kayafas melontarkan perhitungan politiknya ” lebih berguna jika satu orang mati dari pada binasa seluruh bangsa”(Yoh 11:50)
Maka dijatuhkan hukuman mati oleh Ponsius Pilatus terhadap Yesus secara tidak adil.

Mengapa Yesua Harus mati? Yesus,  dengan hati yang tegar dan jiwa yang kuat menerima hukuman itu untuk keselamatan umat manusi dari belenggu dosa yang mereka perbuat. Ia yakin dan percaya bahwa semua itu atas kehendak Bapa yang mengtus Dia untuk keselamatan Dunia.
Kematiannya telah membawa terang bagi kita untuk hidup dalam kasihnya yang Ia perbuat semasa kehidupannya di Bumi.

Refleksi Iman akan Peristiwa Kematian Kristus

Mari kita bertanya pada diri kita , Apakah kita rela mati demi menyelamatkan sesama kita?
Sudakah kita mengorbankan diri kita untuk sesama kita?. Tentu ini pertanyaa reflektif yang perluh kita renungkan.
Dengan Peristiwa kematian Sang Juru selamat umat Manusia,  kita mesti menyadari akan pengorbanan dan kesengsaraan Nya sebagaimana Ia merelakan diri untuk mati secara terhina untuk keselamatan kita.  Kita mesti mengevaluasi diri semasa hidup kita,  dan merefleksikanny untuk meneladani Ia yang rela mengorbankan diri untuk keselamatan banyak orang.

Seberapa banyak kesalahan yang sudah kita lakukan terhadap sesama kita, yang membuat mereka benci terhadap kita, ataukah membuat mereka menderita,  tidak mau membantu sesama,  selalu menertawakan penderitaan orang lain.
Kematian Yesus, mengajarkan kita untuk saling membantu,  juga saling melindungai, kita mesti menjadi Yesus dalam kehidupan kita saat ini. Bagaimana kita memperlakukan orang lain sebagaimana Yesus menyayangi murid-muridnya dan mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama.
Kesengsaraan Yesus memberikan kita teladan untuk bagaimana menjalani hidup yang Fanah ini dengan hati yang tegar dan jiwa yang kuat, hidup yang penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan ini harus kita pikul laksana Ia memikul SalibNya.

Lalu bagaimana kehidupan Yesus setelah kematinNya?,  Seperti yang tertulis di Alkitab ;  “Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Kisah Para Rasul 13:30) bahwa Ia akan Naik ke Surgah dan duduk disebelah kanan Allah Bapa yang Maha kuasa, dan dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati.
Dari kebangkitanNya kita diajarkan untuk bagaimana terus bangkit dari kegagalan, kekalahan serta keterpuruka dan menjalani hidup sesuai ajarannya guna mewartakan Kerajaan Allah serta hidup saling mengasihi sesama manusia.

Kuasa Tuhan dan Covid 19

  Pada momentum paska tahun 2020 ini, kita di hadapkan dengan fenomena Global yang tidak lain ialah pandemi  covid-19 yang  kian meresahkan umat manusia. Semakin hari Pandemi ini terus merongrong dunia dengan angka kematian yang terus bertambah.
Manusia menjadi ketakutan dengan Virua yang mengerikan ini,  karena sistim penyebarannya sangat cepat dan muda.
Apakah dengan fenomena ini, kita selalu mengandalkan Yesus sebagai penyelamat kita? Tentu saja Ia, karena kebesaran kasih dan KuasaNya Ia akan memberhentikan bencana ini dari dunia.
Musibah ini hanya ujian yang diberikannya kepada dunia karena ketamakan dan keserakahan manusia yang terus menjauh dariNya.
Sehingga pada peristiwa Mulia ini kita mesti berdoa kepada Allah agar lekas memberikan kesembuhan pada dunia yang saat ini derendung luka dan duka.
Disamping itu pula kita mesti bekerja untuk bagaimana memutuskan mata rantai penyebaran Covid 19, dengan tetap mengikuti himbauan Pemerintah, karena untuk mencapai suatu tujuan kita mesti mengimbangkan Berdoa dan bekerja (Ora Et Labora)

Mari dengan hari peringatan sengsara dan wafat Yesus ini, kita kembali mengimani Yesus Kristus dan selalu mewartakan kerajaan Allah dengan berbuat kebaikan kepada sesama kita.

(Elfrid Liwuq/Ketua Umum)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai