MASA LALU, PENGALAMAN HIDUP BERHARGA

Aku memasuki sebuah kedai kopi dengan langkah gontai sambil melihat suasana kedai yang cukup sepi malam itu. Dalam sepekan aku selalu berusaha untuk mampir minimal dua sampai tiga kali.
Aku bukan pecinta kopi tetapi kedai ini menjadi saksi tempat aku banyak mengahabiskan hari beberapa tahun lalu. Hingga sekarangpun aku selalu mampir walau hanya sekedar bercerita dengan pemilik kedai.
“Hi..Dim..” sapaku kepada seorang lelaki bertubuh jangkung yang sedang melayani seorang pelanggan yang akan memesan kopi.
Laki-laki yang kusapa tersebut melambai sambil tersenyum kearahku ketika aku sudah masuk melewati pintu kedai.
Aku hendak menempati tempat duduk dipaling pojok tetapi meja itu sudah diisi oleh seseorang lelaki yang memiliki kulit agak gelap yang sedang focus mengetik dilaptopnya dan aku memasang wajah kesalku menuju laki-laki jangkung yang sempat kusapa tadi.
“Dim ..kamu langgar perjanjian deh..”protesku saat sudah didepan laki-laki jangkung tadi. Namanya Dimas tetapi aku potong agar singkat jadi Dim.
“Meja itu harusnya selalu kosong..kenapa sekarang ada pengunjung yang berani-beraninya duduk disana?” protesku pada Dimas
“Iya..iya ..aku jelaskan tapi berhenti deh mengomel “jawab Dimas
“Eh ..mana aku tidak ngomel yang jelas-jelas kamu ingkar janji”aku kembali mengomel
“Cerewetmu itu tidak pernah berkurang. Pantas saja ditinggal”tanggap Dimas mendumel kearahku
“Ihhh..berani yah ungkit-ungkit”aku melayangkan tinjuku diudara dan Dimas tertawa
“Jadi begini..”Dimas mulai menjelaskan dan aku serius mendengarkan
“Laki-laki yang menempati tempat duduk khusus untuk kamu itu pelanggan baru kami”
“ Mentang-mentang dia pelanggan baru jadi kamu kasih izin dia untuk duduk disana”potongku kesal
“Dengar dulu sampai selesai Airin..”suara Dimas melemah dengan memasang wajah ingin memakanku
“Sudah seminggu ini kamu hilang dan tidak pernah mampir lagi kesini. Aku pikir kamu sudah berangkat tanpa pamitan sama aku jadi aku izinkan saja pelanggan baru itu untuk duduk disana karena seminggu ini setiap hari dia mampir kesini” jelas Dimas
“Ihh alasan yah kamu..tidak mungkin aku pergi ketempat jauh begitu tanpa pamit sama kamu. Aku tidak sejahat itu” geramku pada Dimas
Dimas hanya tertawa ngakak mendengar tanggapanku.
“Kamu berangkat kapan ketempat itu Rin?” Dimas memandangku dengan raut wajah serius
“Beberapa minggu lagi aku berangkat” jawabku dengan pandangan kosong.
Dimas menarikku dan kami pun duduk disebuah meja kedai yang kosong.
“Harus sekali yah Rin kamu ketempat itu dan jadi relawan disana?”
“Kamu terlalu meragukan aku Dim..aku pasti bisa bertahan ditempat itu”aku meyakinkan Dimas dengan jawabanku.
“Sejauh itu yah tempat kamu pergi untuk bisa lupa dia?” Tanya Dimas hati-hati
“Apa sih Dim? Jangan bahas yang bikin aku jengkel deh. Aku sudah sepenuhnya ikhlas dengan kepergiannya . aku memilih untuk jadi relawan dan tinggal ditempat terpencil bukan karena aku ingin lari dari kenyataan dan rasa sakit” ucapku ketus
“Terus kenapa kamu masih jadi manusia aneh yang pake bawa-bawa aku untuk selalu kosongkan tempat duduk dipojok itu untuk kamu? Kamu belum benar-benar lupa dia kan Rin? Kamu masih meratapi kenangan dengannya termasuk tentang kedai ini, tempat kalian banyak mengabiskan hari-hari selama bersama dulu”protes Dimas
“Dim berhenti deh..sekarang aku Cuma minta kamu dekati pelanggan baru kamu itu untuk segera kosongkan tempat duduk itu,aku mau duduk disana”perintahku dengan wajar seserius mungkin pada Dimas
“Oke..bareng yuk biar mudah jelasnya” Dimas kembali menarikku menuju tempat duduk dipojok ruangan.
“Ehem..permisi..”ujar Dimas hati-hati mencoba mengalihkan pelanggan barunya dari kesibukan mengetiknya pada laptop
“Jadi begini..tempat duduk ini merupakan tempat khusus untuk perempuan disamping saya” ujar Dimas sambil menunjuk aku
“Biasanya kami selalu mengosongkan tempat ini untuk dia tetapi karena seminggu ini dia tidak pernah mampir lagi jadi saya mengizinkan anda untuk menempati tempat duduk ini”jelas Dimas penuh hati-hati
“Tempat duduk ini masih tersisa satu kursi. Jadi bagaimana kalau kamu menempati kursi yang masih kosong ini karena saya juga sedang kerja”jawab laki-laki itu singkat
“Tapi..” ucapanku belum selesai ketika Dimas meremas tanganku untuk diam
“Apa sih Dim? Ini tempat dudukku! Kenapa aku harus mengalah?”protesku pada Dimas tetapi Dimas berlalu dan hanya mengedipkan matanya padaku.
Laki-laki dihadapanku masih focus pada laptopnya dan tak menggubrisku ketika aku menyerah dan menempati kursi kosong dihadapannya. Aku sengaja menendang kaki meja tetapi dia tetap seperti menganggap angin lalu kehadiranku.
Aku hanya tertegun memandang kopi pesananku yang beberapa menit lalu pegawai kedai antarkan kepadaku.
“Nama kamu siapa?” laki-laki dihadapanku menutup laptopnya dan kali ini focus padaku
Aku tak menggubrisnya dan memilih cuek sambil menatap keluar jendela.
“Airin..?”
“Tahu dari mana namaku?”Tanyaku ketus
“Aku tidak sengaja mendengarnya menyebut namamu saat kalian berbicara tadi”jawab laki-laki itu santai sambil mengarahkan pandangan pada Dimas
Aku tak menggubrisnya lagi dan kembali mengarahkan pandanganku keluar jendela.
“Kamu mau jadi relawan yah?” laki-laki dihadapanku kembali bersuara
“Terus apa urusannya sama kamu?”
“Kebetulan setahun kemarin aku pernah gabung juga jadi relawan disuatu daerah terpencil”ujarnya
Mendengar jawabannya aku memalingkan wajahku padanya. Sedikit tertarik.
“Kami focus kepada pembagian buku kepada anak-anak yang kesulitan memperoleh buku. Terlebih ketika kita melihat situasi saat ini budaya membaca itu kehilangan peminat jadi anak-anak harus dilatih sedini mungkin untuk biasakan membaca”ujarnya serius dan aku mulai menyimak.
Dan malam itu aku mampu betah mendengarkan seorang asing yang baru kukenal. Mendengarkan tentang pengalaman susahnya menjadi seorang relawan lengkap dengan segala perjuangan ketika masyarakat sulit menerima kehadiran mereka.
“Maaf aku harus pergi. Temanku sudah menunggu, kapan-kapan baru kita kembali bertukar cerita.”ujarnya sambil terburu-buru menenteng tasnya dan berlalu dihadapanku.
Beberapa saat kemudian aku juga beranjak dari tempat dudukku dan menemui Dimas.
“Aku lihat kamu betah banget cerita sama orang asing itu” celetuk Dimas
“Hanya sedikit berbagi cerita Dim.. aku pamit” ujarku sambil berlalu
“Hati-hati..”Dimas sedikit berterik dan aku hanya melambaikan tangan lalu keluar dari kedai itu.

Beberapa minggu kemudian…
“Hi.. Dim..?” aku sedikit berteriak mengagetkan Dimas yang sedang duduk disalah satu meja kosong di kedai.
“Kemana saja kamu Rin?Lagi hobby menghilang yah kamu?” cerocos Dimas
“Lagi sedikit ada kesibukan sebelum berangkat Dim..”ujarku santai dan Dimas hanya nyengir
“Ini aku kasih hadiah sebelum aku berangkat karena kamu sudah jadi pemilik kedai paling perhatian dan pengertian selama ini” ujarku menyerahkan sebuah bungkusan
“Jangan bikin aku nangis deh Rin”ujar Dimas mellow sambil menerima bungkusan dari tanganku
Aku berhasil ngakak melihat ekspresi Dimas .
“Jaga diri baik-baik yah Rin ditempat baru.laki-laki brengsek yang meninggalkanmu itu akan sangat menyesal nanti” Dimas memelukku
“Sudahlah Dim..aku sudah memaafkan dia .semua orang punya setiap keputusan yang terbaik untuk dirinya dan kita harus menghargai itu kan?”gumamku pelan sambil tersenyum
“Eh..itu si orang asing itu selalu bertanya soal kamu setiap kali berkunjung” celetuk Dimas
Aku hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan Dimas.
“Hi…”sapaku pelan pada laki-laki yang sedang sibuk pada laptopnya
“Kamu menghilang kemana?”
“Sedikit menghilang dari planet ini. Banyak yang harus diurus” jelasku
“Oh iya lupa..”ujarku sambil menepuk pelan jidatku
“Namamu siapa?”
“Efraim..”jawabnya
“Kamu selalu sibuk sama laptop kamu..”ujarku mulai membuka topic pembicaraan
“Oh iya.. aku seorang wartawan kebetulan lagi menulis berita “jelasnya dan aku hanya manggut-manggut.
“Kenapa kamu selalu memesan tempat duduk dipojok ini untuk tidak ditempati orang lain?”Efraim menatapku seperti mencari sesuatu
“Biasalah. Aku patah hati karena ditinggal dan tempat duduk kita yang sekarang ini adalah tempat duduk yang selalu kami pesan dan kedai ini tempat favorite kami menghabiskan waktu berdua”
Entah kenapa aku seperti berani berkata jujur dan kembali membuka kisah masa laluku pada pria asing yang baru kutemui dua kali.
“Dia memilih pergi bersama perempuan lain dan menikah lalu aku patah hati dan menjadi hampir gila”
“Lalu aku sering menghabiskan waktuku di kedai ini. Aku mengenang setiap kenangan dan perbincangan kita disini lalu perlahan aku bisa memaafakannya karena dia berhak mengambil setiap keputusan untuk hidupnya”lanjutku dan Efraim hanya menatapku dalam.
“Iya. Ditinggalkan memang menyakitkan . kita punya kisah yang sama,entah sudah keberapa kalinya aku selalu ditinggalkan”ujar Efraim mengembuskan nafas berat
“Istriku pergi dari rumah meninggalkan anak-anak dan aku. Saat itu aku menjadi manusia yang terpuruk dan susah untuk bangkit kembali”
Mendengar penuturan Efraim aku terpengarah dan kaget. Kisahnya lebih perih dariku.
“setelah ditinggalkan aku mencoba bangkit. Kembali membuka hati untuk jatuh cinta pada orang baru tetapi selalu gagal. Setiap perempuan yang pada akhirnya tahu tentang masa laluku kembali pergi meninggalkanku.selalu begitu”tutur Efraim
“Efraim..aku perempuan..soal cerita kamu aku tidak menyimpulkan istri kamu salah. Yang pergi tidak selamanya salah, pasti dia punya alasan kuat apalagi dengan konsekuensi meninggalkan anak-anak. Itu bukan keputusan yang mudah. “ujarku
“Dan soal perempuan yang meninggalkanmu setelah tahu masa lalumu itu hal yang wajar karena banyak perempuan yang tidak mau diribetkan dan pusing soal penyelesaian rumah tangga orang tetapi ketika kamu jujur maka kamu akan melihat perempuan siapa yang akan menerima kamu dengan tulus. Sesederhana itu” ujarku pelan
Dia tersenyum sinis kearahku.
“Aku tidak pernah memaksa seseorang untuk tetap tinggal. Setiap orang punya alasan masing dan aku menghargai setiap keputusan yang telah mereka buat”ujar Efraim
“Setuju. Dulu aku membenci laki-laki yang meninggalkanku,menganggap dia jahat tetapi setelah merefleksikan diri aku menemukan kedamaian dan keikhlasan”
“Setiap orang punya keputusan untuk menentukan yang terbaik untuk hidupnya. Kita sebagai orang yang ditinggalkan harus mampu memaknai dan belajar dari setiap pegalaman yang ada untuk menjalani hidup lebih baik lagi”lanjutku
“Oh iya.. perempuan itu tidak suka dibohongi.aku pikir semua manusia dibumi juga begitu. Ketika kamu mulai membuka hati kembali untuk perempuan baru,sedari awal jujurlah akan masa lalumu. Akan ada seorang perempuan yang menerima segala kekuranganmu”
“Aku sering ditinggalkan Airin. Masa lalu membunuhku”gumam Efraim pelan namun seperti aku juga ikut merasakan kepedihan hatinya.
“Efraim..setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan punya masa lalu. Masa lalu tidak membunuhmu. Masa lalu harus dijadikan pelajaran hidup berharga untuk kita jadi lebih baik lagi”ujarku pelan
“Kalau perempuan itu kamu? Kamu bisa menerima masa laluku?”Tanya Efraim spontan yang membuat jantungku seperti ingin melonjak saking kagetnya.
Wajahku memerah tetapi aku masih mampu tersenyum tenang.
“Efraim ..selesaikan baik-baik masa lalumu dahulu barulah kembali membuka hati dan memulai bersama orang baru”jawabku pelan
“Aku anggap itu penolakan halus”ucap Efraim tersenyum kearahku dengan sinis
“Kita tidak akan pernah tahu takdir memihak pada kita Efraim..”ucapku pelan
“Apa karena masa laluku?”Tanya Efraim
“Aku menerima masa lalumu,anak-anakmu dan segala kekuranganmu tetapi tidak sekarang. Banyak hal yang perlu aku dan kamu lakukan”
“Besok aku berangkat tinggalkan kota ini tetapi suatu hari nanti saat kita sudah siap dan benar-benar ikhlas melepas masa lalu kita semoga saat itu kita kembali dipertemukan” aku meyakinkan Efraim
“Sejak pertemuan kita malam itu dibeberapa minggu yang lalu,aku pikir aku jatuh cinta pada pandangan pertama Airin..”ucap Efraim dan aku hanya tersenyum
“Aku pamit Efraim..aku bersyukur kita pernah dipertemukan”
“jaga diri ditempat yang baru Airin..”ucap Efraim tulus dengan tatapan sendu dan aku hanya mengangguk .
Aku berpamitan pada Dimas dan beberapa karyawan di Kedai itu lalu melangkah pasti meninggalkan kedai itu untuk menyambut suasana baru dan lingkungan baru yang menungguku.

Beberapa tahun kemudian..
sorak sorai tawa dan teriakan membahana memeriahkan acara dan perlombaan dalam rangka memperingati hari Kartini.
Ditengah lapangan dengan terik matahari yang menyengat namun tak menyusut semangat anak-anak untuk aktif mengikuti berbagai perlombaan.
Setelah hampir 6 tahun aku menetap di Desa ini dan menjadi tenaga pengajar disebuah Sekolah Dasar dengan jumlah murid yang cukup banyak tetapi sangat kekurangan tenaga pengajar dan buku serta fasilitas lain yang mendukung proses belajar siswa.
Setelah beberapa tahun yang lalu datang dengan permintaan Ina teman sekelasku semasa SMA. Aku bergabung bersama tenaga relawan dan memilih menetap hingga sekarang.
“Rin ..jangan buru-buru pulang dulu, nanti ada tenaga relawan lain yang datang menyumbangkan buku untuk sekolah ini” ujar Ina yang sudah berdiri disampingku sambil memperhatikan anak-anak yang sedang asyik dengan perlombaan mereka.
“Iyalah Na..kan tunggu kegiatan selesai dulu baru kita pulang sama-sama tapi aku baru tahu kalau ada relawan lain yang akan datang” ujarku
“Aduh..serius aku lupa beritahu tapi sekarang sudah kuberitahukan?”ujar Ina sambil tersenyum dan menepuk pelan jidatnya
Sejam kemudian rombongan relawan yang tadi disampaikan Ina sampai dan kami menyambut dengan gembira kehadiran mereka . banyak buku yang mereka sumbangkan dan aku sangat bersyukur akan itu tetapi sejak rombongan itu sampai senyumku tak pernah lenyap. Hatiku serasa berbunga-bunga. Dari rombongan relawan itu ada seseorang yang membuat darahku mengalir panas.
“Selamat hari kartini perempuan hebat..”ucap Efraim tulus saat kami hanya duduk berdua disebuah pohon disamping gedung sekolah.
“Aku tidak sehebat itu”ucapku pelan
“Bagiku kamu hebat. Bertahun-tahun betah menetap di Desa ini dan jadi tenaga pengajar,tinggalkan rumah dan keluarga”
“Aku ingin merdeka.bebas menentukan pilihan kemana kaki melangkah membawaku Efraim.soal menetap di Desa terpencil ini dan jadi tenaga pengajar tanpa gaji itu memang sudah impianku dari dulu”gumamku
“Kartini masa kini..” ujar Efraim dan gelak tawa keluar dari mulutku
“Tidak berencana meninggalkan tempat ini suatu hari nanti?”
“Aku menunggumu menjemputku Efraim” ucapku tegas tanpa malu-malu atau menggunakan kode untuk Efraim peka.
Efraim tertawa dan berujar “kamu makin berani Airin..”
“Kartini masa kini harus berani dong.. Berani menghadapi tantangan hidup dan berani untuk terus maju menggapai setiap cita-cita dan impian..termasuk soal berani menyatakan apapun perasaannya kepada orang yang dia cintai” ucapku pelan tersenyum karena sejujurnya aku merasakan wajahku terasa panas dan bersemu merah.
“Hari ini aku menjemputmu pulang bersamaku Airin”
“Hari ini juga?” tanyaku kaget dan Efraim mengangguk.
“Aku minta waktu Efraim. Aku belum siap tinggalkan anak-anak dan semua masyarakat di Desa ini”ucapku pelan
“Baiklah aku selalu menunggumu Airin..takdir yang berpihak dan kembali mempertemukan kita sudah cukup membuatku senang” ucap Erfaim menutup perbincangan kami disiang itu.
***

Selamat hari Kartini wanita-wanita hebat.
Tetap tangguh dan perkasa

Penulis adalah salah satu anggota aktif KMK St. Agustinus FISIP Undana

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai